Digital Electronics Design

Read the Latest Electronics Design News & Daily Updates from EW- www.ElectronicsWeekly.com/Design

Senin, 25 Oktober 2010

energiterbarukan.net

Menantikan Peta Potensi Energi Panas Laut Indonesia PDF Cetak E-mail
Diupload Oleh energiterbarukan.net
Friday, 12 March 2010

Ocean Thermal Energy Conversion
Dok. ITB
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki perairan laut yang meliputi lebih dari 50 persen. Dengan demikian Indonesia memiliki sumber energi dari laut yang sangat menjanjikan.

Sumber daya energi yang dapat dikelola dari laut, antara lain energi gelombang (ocean wave energy), energi arus laut (ocean current energy) dan pasang surut (tidal energy) serta energi panas laut (Ocean Thermal Energy Conversion – OTEC). Semua jenis energi laut ini, secara teori pernah diteliti di wilayah perairan Indonesia. Diperkirakan potensi-potensi yang teridentifikasi dari energi laut mencapai 340 GigaWatt (GW), namun satu pun belum ada yang teralisasi.

Salah satu sumber energi yang sampai saat ini belum tereksplorasi dari laut Indonesia adalah OTEC. Teknologi ini memanfaatkan laut sebagai tempat pengumpul, penyerap dan penyimpan energi panas dari matahari. Proses ini memanfaatkan energi panas laut yang tersimpan di laut tropis, seperti lautan di Indonesia. Pada prinsipnya konversi energi panas laut itu memanfaatkan perbedaan suhu air laut di permukaan dan di kedalaman tertentu. Perbedaan suhu minimum yang diperlukan untuk konversi panas laut ini berkisar 20 derajat Celcius.

Secara sederhana proses konversi panas laut dilakukan dengan air laut yang hangat dari permukaan akan digunakan untuk menguapkan cairan yang memiliki titik didih yang rendah (contohnya amonia). Selanjutnya uap cairan akan digunakan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Uap cairan dengan titik didih rendah itu kemudian dicairkan kembali dengan proses pendinginan menggunakan air laut dalam.

Pengembangan OTEC diawali di tahun 1930 di Teluk Mantazas, Kuba. Saat itu ahli fisika dari Prancis, George Claude berhasil membangun pembangkit listrik tenaga panas laut yang menghasilkan listrik 22 kiloWatt (kW).

Di tahun 1993, sebuah pembangkit listrik tenaga panas laut yang dapat menghasilkan listrik sebesar 50.000 Watt telah dibangun di Keahole Point, Hawaii. Pembangkit OTEC ini memecahkan rekor, mengalahkan pembangkit OTEC Jepang yang berkapasitas 40.000 Watt yang dibangin di tahun 1982.

Saat ini India telah memulai proyek pengembangan dan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas laut dengan kapasitas hingga satu MegaWatt di Kavaratti, Pulau Lakshadweep.

Pernah Dilakukan
Sebenarnya rencana perwujudan OTEC di Indonesia pernah akan dilakukan di Bali Utara. Sekitar tahun 1983 telah dilakukan penjajakan pengembangan pembangkit listrik oleh pihak Belanda bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Saat itu semua data yang penting untuk rancangan dasar (basic design) Pembangkit OTEC telah dikumpulkan. Selanjutnya selama empat Tim BPPT berada di Belanda untuk melakukan rancangan dasar gabungan dengan para pakar dari Belanda. Di negara kincir angin itu, “Basic Design OTEC 100 kWe.”

Secara teknis, OTEC 100 kWe ini sangat memungkinkan di Bali, namun secara perhitungan ekonomis ternyata belum memungkinkan. Salah satu kesimpulannya, kelayakan ekonomis OTEC akan tercapai bila harga minyak lebih dari US$ 40 per barel. Sementara pada saat itu (1983-1984) harga minyak masih berada di US$ 20 per barel. Mungkin itu salah satu pertimbangan akhirnya proyek OTEC di Bali tidak dilanjutkan.

Studi kelayakan pembangunan sistem pembangkit OTEC juga pernah dilakukan pihak Jepang, untuk mendukung pariwisata dan hotel di wilayah pulau-pulau kecil yang jauh dari Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali. Salah satu alternatifnya saat itu adalah Pulau Lombok.

Peta Potensi
Dengan melambungnya harga minyak dunia, OTEC sebagai salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang ramah lingkungan, mulai kembali dipikirkan. Prof.Dr.Safwan Hadi dan Dr.Totok Suprijo dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Prof.Dr.Ir. Bonar P.Pasaribu dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan pentingnya studi kelayakan dan pengembangan OTEC ini.

Pada tahap awal data oseanografi akan dikumpulkan, terutama data suhu permukaan dari data satelit AVHRR-NOAA dan World Ocean Atlas, untuk selanjutnya dilakukan analisa baik secara vertikal maupun horisontal. Hasilnya diharapkan menjadi peta potensi panas laut secara regional di seluruh wilayah Indonesia.

Dari peta yang dihasilkan, akan dipilih daerah berpotensi untuk ditinjau lebih detil daerah pantainya.
Diskusi Pengembangan OTEC di DJLPE - Jakarta (13/01/2010)
Dok. DJLPE


Disarikan oleh: Mega Christina dari makalah Prof.Dr.Safwan Hadi dan Dr.Totok Suprijo serta Prof.Dr.Ir. Bonar P.Pasaribu
Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 08 June 2010 )

Clearinghouse Energiterbarukan | Copyright 2007

Pemanfaatan Energi Matahari

Kumpulan Artikel - 102 - Energi Matahari / Surya / Solar
E-mail Cetak PDF
Energi Matahari Ternyata Tingkatkan Pemanasan Global

Kapanlagi.com - Pemanfaatan energi matahari di satu sisi dianggap ramah lingkungan karena mengurangi polusi karbon namun di sisi lain meningkatkan pemanasan global dalam pengadaan panel suryanya.

"Pengadaan panel surya ukuran 1x1,5 m2 dengan kapasitas 1 kW per hari membutuhkan 40 kg batubara untuk proses pembuatannya," kata anggota baru Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) bidang Ilmu Rekayasa Prof Dr Satryo Soemantri Brodjonegoro di Jakarta, Selasa.

Padahal 40 kg batubara mampu langsung menghasilkan energi sebesar 130 kWh, ujarnya pada Pidato Inaugurasinya di depan para ilmuwan AIPI.

Proses pembuatan panel, ujarnya, juga dimulai dari penambangan batuan silika kemudian diproses menjadi berturut-turut, silika metalik, triklorosilan, polikristalin silikon, sel surya (solar cell) dan kemudian panel.

"Salah satu bahan kimia yang berbahaya adalah klorin yang digunakan pada setiap urutan proses pembuatan panel tersebut," katanya.

Sedangkan untuk pemurnian silika diperlukan proses pemanasan yang lama pada suhu tinggi, ujar mantan Dirjen Pendidikan Tinggi itu.

Dengan demikian, pencemaran yang terjadi saat pembuatan panel adalah selain karena pembakaran batubara yang menimbulkan emisi GHG (greenhouse gases), juga polusi kimia, dan limbah silika yang tak bisa didaur ulang, katanya.

Pada 2008 China membakar 30 juta ton batubara untuk memproduksi. Panel yang dibutuhkan AS dan Uni Eropa.

"Artinya telah terjadi pemanasan global oleh China dalam rangka pengurangan emisi GHG oleh AS dan Uni Eropa," katanya sambil menambahkan bahwa bahan silika hingga saat ini masih yang terbaik untuk pembuatan sel surya.

Cita-cita upaya pemanfaatan tenaga surya saat ini, ujarnya, juga sudah sampai penempatan sel surya di ruang angkasa dengan orbit tinggi sehingga terkena sinar matahari terus-menerus.

Tenaga surya yang dihasilkan lalu dikonversi menjadi listrik dan kemudian dipancarkan sebagai gelombang mikro ke stasiun bumi, ujarnya.

"Satu satelit diperkirakan mampu menyediakan 10 gW listrik di bumi secara terus-menerus," katanya sambil menambahkan bahwa teknologi tersebut sudah dikuasai seperti halnya pembuatan stasiun ruang angkasa. (ant/roc)



Sumber : Kapanlagi.com


Set as favorite
Bookmark
Email this
Hits: 218
Komentar (0)Add Comment
Tulis Komentar
feedTampilkan/Sembunyikan form komentar
Email (wajib di isi)
Nama (wajib di isi)
Website (optional)

Komentar Anda
bold italicize underline strike url image quote Smile Wink Laugh Grin Angry Sad Shocked Cool Tongue Kiss Cry
smaller | bigger
Submit

busy
Artikel yang berhubungan:

* ~ Pemanasan Global: Cuaca Ekstrem Disertai Kilat Dan Angin Kencang
* ~ Greenpeace: Revolusi Energi Cegah Dampak Buruk Pemanasan Global
* ~ Perubahan Iklim Musnahkan Mars Dan Venus
* ~ Perkiraan: Es Kutub Utara Akan Lenyap 2012
* ~ Pemanasan Global, Suhu Naik 6 Derajat, Bumi Mencekam

Baca Juga:

* ~ Lempengan Tipis Modul Surya
* ~ Sel Surya Bahan Baku Titanium Dioksida (TiO2)
* ~ 120.000 Triliun Watt Energi Tubruk Bumi
* ~ Ilmuan Korea Selatan Ciptakan Sel Listrik Plastik
* ~ Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terbesar Di Dunia

Artikel sebelumnya:

* ~ Optimalkan Pembangkit Listrik Tenaga Listrik (PLTS) Gedung-Gedung Tinggi Di Jakarta
* ~ 15 Miliar Untuk Pengadaan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Di Kalimantan Timur
* ~ Warga Kota Pagar Alam, Sumatera Selatan (Sumsel) Terpaksa Gunakan Listrik Tenaga Surya (PLTS)
* ~ 22% atau 15 Ribu dari 66 Ribu Desa Di Indonesia Belum Dapat Listrik
* ~ Bangun PLTS Di Kupang Atasi Krisis Listrik Di Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur

<< Hal SebelumnyaHal Selanjutnya >>
Anda belum mendaftar atau login.
Anda dapat turut serta menuliskan artikel disini, caranya klik disini
Ada pertanyaan? Ingin berdiskusi? silahkan tulis di Alpensteel Forum

CSO 1 (English):

CSO 2 (Bahasa Indonesia):

CSO 3 (Bahasa Indonesia):
Who's Online
Kami memiliki 261 Tamu online
Product
Turbin Angin HAWT (7) Solar Power System / SPS (7) Deep Cycle Gel Battery (20) UPS / Sinewave Inverter (7) UPS / Inverter Montana (14) SHS / SLS / PLTS (19) Lampu Jalan Tenaga Surya (8) Pompa Air Tenaga Surya (34) Lampu Lalu Lintas Tenaga Surya (18) Kulkas Vaksin Tenaga Surya (8) Aplikasi Solar Cell (15) Air Panas Tenaga Surya (1) Global Position System (8) Alat Pengamatan Cuaca (3) Mikro Hidro / PLTMH (16) Solar Cell Polycrystalline (43) Solar Cell Monocrystalline (7) Controller MorningStar (41) Controller Phocos (15) Lampu CFL 12/24VDC (7) Lampu LED AC/DC - A (12) Lampu LED AC/DC - B (8)
Login Form
Nama Pengguna Kata Sandi
Lupa kata sandi? Mendaftar
PageRank
free counters
Alpen Steel Facebook

Hakcipta © 2010 Alpen Steel | Renewable Energy. Semua Hak Dilindungi.
Jl. Karawang No. 2 Bandung, Indonesia 40272. Phone:(022)7206633 Fax :(022)723-08-12
Designed and maintenanced by Yorick!