Menantikan Peta Potensi Energi Panas Laut Indonesia PDF Cetak E-mail
Diupload Oleh energiterbarukan.net
Friday, 12 March 2010
Ocean Thermal Energy Conversion
Dok. ITB
Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki perairan laut yang meliputi lebih dari 50 persen. Dengan demikian Indonesia memiliki sumber energi dari laut yang sangat menjanjikan.
Sumber daya energi yang dapat dikelola dari laut, antara lain energi gelombang (ocean wave energy), energi arus laut (ocean current energy) dan pasang surut (tidal energy) serta energi panas laut (Ocean Thermal Energy Conversion – OTEC). Semua jenis energi laut ini, secara teori pernah diteliti di wilayah perairan Indonesia. Diperkirakan potensi-potensi yang teridentifikasi dari energi laut mencapai 340 GigaWatt (GW), namun satu pun belum ada yang teralisasi.
Salah satu sumber energi yang sampai saat ini belum tereksplorasi dari laut Indonesia adalah OTEC. Teknologi ini memanfaatkan laut sebagai tempat pengumpul, penyerap dan penyimpan energi panas dari matahari. Proses ini memanfaatkan energi panas laut yang tersimpan di laut tropis, seperti lautan di Indonesia. Pada prinsipnya konversi energi panas laut itu memanfaatkan perbedaan suhu air laut di permukaan dan di kedalaman tertentu. Perbedaan suhu minimum yang diperlukan untuk konversi panas laut ini berkisar 20 derajat Celcius.
Secara sederhana proses konversi panas laut dilakukan dengan air laut yang hangat dari permukaan akan digunakan untuk menguapkan cairan yang memiliki titik didih yang rendah (contohnya amonia). Selanjutnya uap cairan akan digunakan untuk menggerakkan turbin dan menghasilkan listrik. Uap cairan dengan titik didih rendah itu kemudian dicairkan kembali dengan proses pendinginan menggunakan air laut dalam.
Pengembangan OTEC diawali di tahun 1930 di Teluk Mantazas, Kuba. Saat itu ahli fisika dari Prancis, George Claude berhasil membangun pembangkit listrik tenaga panas laut yang menghasilkan listrik 22 kiloWatt (kW).
Di tahun 1993, sebuah pembangkit listrik tenaga panas laut yang dapat menghasilkan listrik sebesar 50.000 Watt telah dibangun di Keahole Point, Hawaii. Pembangkit OTEC ini memecahkan rekor, mengalahkan pembangkit OTEC Jepang yang berkapasitas 40.000 Watt yang dibangin di tahun 1982.
Saat ini India telah memulai proyek pengembangan dan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas laut dengan kapasitas hingga satu MegaWatt di Kavaratti, Pulau Lakshadweep.
Pernah Dilakukan
Sebenarnya rencana perwujudan OTEC di Indonesia pernah akan dilakukan di Bali Utara. Sekitar tahun 1983 telah dilakukan penjajakan pengembangan pembangkit listrik oleh pihak Belanda bersama Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Saat itu semua data yang penting untuk rancangan dasar (basic design) Pembangkit OTEC telah dikumpulkan. Selanjutnya selama empat Tim BPPT berada di Belanda untuk melakukan rancangan dasar gabungan dengan para pakar dari Belanda. Di negara kincir angin itu, “Basic Design OTEC 100 kWe.”
Secara teknis, OTEC 100 kWe ini sangat memungkinkan di Bali, namun secara perhitungan ekonomis ternyata belum memungkinkan. Salah satu kesimpulannya, kelayakan ekonomis OTEC akan tercapai bila harga minyak lebih dari US$ 40 per barel. Sementara pada saat itu (1983-1984) harga minyak masih berada di US$ 20 per barel. Mungkin itu salah satu pertimbangan akhirnya proyek OTEC di Bali tidak dilanjutkan.
Studi kelayakan pembangunan sistem pembangkit OTEC juga pernah dilakukan pihak Jepang, untuk mendukung pariwisata dan hotel di wilayah pulau-pulau kecil yang jauh dari Pulau Sumatera, Jawa, dan Bali. Salah satu alternatifnya saat itu adalah Pulau Lombok.
Peta Potensi
Dengan melambungnya harga minyak dunia, OTEC sebagai salah satu sumber energi baru dan terbarukan yang ramah lingkungan, mulai kembali dipikirkan. Prof.Dr.Safwan Hadi dan Dr.Totok Suprijo dari Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB) serta Prof.Dr.Ir. Bonar P.Pasaribu dari Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan, Institut Pertanian Bogor (IPB) memaparkan pentingnya studi kelayakan dan pengembangan OTEC ini.
Pada tahap awal data oseanografi akan dikumpulkan, terutama data suhu permukaan dari data satelit AVHRR-NOAA dan World Ocean Atlas, untuk selanjutnya dilakukan analisa baik secara vertikal maupun horisontal. Hasilnya diharapkan menjadi peta potensi panas laut secara regional di seluruh wilayah Indonesia.
Dari peta yang dihasilkan, akan dipilih daerah berpotensi untuk ditinjau lebih detil daerah pantainya.
Diskusi Pengembangan OTEC di DJLPE - Jakarta (13/01/2010)
Dok. DJLPE
Disarikan oleh: Mega Christina dari makalah Prof.Dr.Safwan Hadi dan Dr.Totok Suprijo serta Prof.Dr.Ir. Bonar P.Pasaribu
Terakhir diperbaharui ( Tuesday, 08 June 2010 )
Clearinghouse Energiterbarukan | Copyright 2007
Tidak ada komentar:
Posting Komentar