Does Background Television Harm Child Development?
Print Email
ShareThis
Facebook Twitter Buzz
Related Articles
* Electronic Play and the Effects of Television Viewing
* Television and Your Family: Who Controls the Remote Control?
* Television and Young Children
* Television Viewing and Young Children
* Television and Video Games: Monitoring Your Child's Screen Time
* Guiding Children's Television Viewing
* Television and the Family
* Core Concepts of Prenatal, Infant, and Toddler Development
* Growth and Development, Ages Zero to Three
Related Topics
* Developmental Milestones Ages 1 to 2
* Developmental Milestones Ages 2 to 3
* Television, Children, and Teens
* Television Exposure
*
*
* 1
* 2
* 3
* 4
* 5
(based on 4 ratings)
By Johanna Sorrentino
We know that kids shouldn’t watch too much TV. In fact, the American Academy of Pediatrics recommends no screen media for kids under two years old, and only an hour a day for kids over that age.
Yet, research shows that 40 percent of three-year-olds live in homes where the television in on most of the time, even if no one is watching it. Researchers have wondered for years what impact this background television has on a child’s development. Now, the results are in. According to new research from the University of Massachusetts, having a television on translates to less focused play and decreased parent-child interaction.
In the study, fifty children aged one-, two- and three-years-old were videotaped with one parent in a laboratory space resembling a family room, complete with armchair, table with magazines and newspapers, and a large toy chest filled with age-appropriate toys. For half of the hour, a television program selected by the adult played in the background. Parents could choose from a mix of sitcoms, cooking shows, game shows, and reality TV shows (Friends was by far the most popular, researchers said). During the other half hour, the television was turned off.
Turns out that in a majority of cases, as soon as the laugh track came on, both the quantity and quality of parents' interaction with their children decreased. “When the TV was on relative to when it was off, parents not only spoke less but interaction was affected, so they weren’t helping their child do things in play they couldn’t do on their own,” says Heather Kirkorian, one of the researchers on this study.
It is that very type of interaction that is so crucial to a child’s development, Kirkorian says. It’s called "scaffolding": when children play alone there is a limit to their abilities, but when playing with a competent other, they can engage in more sophisticated play. For example, your toddler may think banging two blocks together is the best thing since sliced bread. However, if you get down on the floor with him and show him how to use the blocks to build a coherent structure, you might just blow his mind. That’s scaffolding. If your preschooler is playing doctor with her stuffed animals, and you come in complaining of stomach problems, you’ve just upped the ante on the sophistication of her creative play—which many experts believe promotes problem solving skills and empathy.
The new research shows that many of those learning opportunities are lost in the presence of television. What Kirkorian says was most striking was that many parents weren’t even aware of their own distraction. “It’s not as if parents came into the lab and said, ‘Go play, I’m watching television.’ In fact, that only happened once. They really did try to ignore the television and play with their children,” she says, noting that one dad continued to respond to his child when the television went on, but the most he could get out were passive responses, such as “uh-huh.” The goes to show, says Kirkorian, that “TV is a very powerful distracter.”
Kirkorian stresses, however, that parents shouldn’t feel guilty every time they turn on the TV. A little background television won't hurt. “Where we want to raise the concern is where the TV is on almost all of the time,” she says. “It’s important that kids have quiet time to interact with objects in their environment. And they should have time every day to interact with parents.”
So, next time you’re out of parenting ideas and need a fun way to relax, don’t reach for the remote. Instead, try some of these activities with your child:
* Hopped Up Hide and Seek
* Play Animal Exercises
* Practice Blind Finger Counting
* Keep a Lid on It!: A Sorting Game
* Make a Sensory Table
* Make Noodle Necklaces
* Make Popsicle Puppets… and Practice Communication
Next Article: Toddlers and "Interactive TV" - Are Video-Based Toys Good for Your Child?
Post a Comment | View Comments (1)
Comments (1)
*
Brianne Pankratz: Thank you for this wonderful article! Pass it on.
Dec 27, 2009
About Us | Contact Us | Help | Submission Guidelines | Privacy Policy | Terms of Use | Partners | Widgets and Tools
Copyright © 2006 - 2010 Education.com, Inc. All rights reserved.
Digital Electronics Design Read the Latest Electronics Design News & Daily Updates from EW- www.ElectronicsWeekly.com/Design
Halaman
Digital Electronics Design
Read the Latest Electronics Design News & Daily Updates from EW- www.ElectronicsWeekly.com/Design
Minggu, 05 September 2010
Upaya Penghematan Energi
Kamis, 10 Juni 2010 10:38
SALAH satu urusan penting yang harus diperbaiki di negeri ini adalah kebijakan energi. Sebab, persoalan energi menyangkut hajat hidup masyarakat. Bahkan, boleh dibilang baik tidaknya pengelolaan energi langsung terkait dengan maju tidaknya sebuah negara.
Dalam hal konsumsi bahan bakar minyak (BBM), misalnya, kami menyambut baik langkah pemerintah (melibatkan PT Pertamina) yang kini menyiapkan program untuk membatasi konsumsi BBM.
Publik harus sadar bahwa pembatasan BBM ini penting. Ini supaya masyarakat tidak memboroskan anggaran negara. Dengan demikian, subsidi tersebut bisa dialihkan untuk program-program yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, supaya kita bisa bekerja lebih keras untuk menemukan dan menggunakan energi yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Tak sebanding dengan peningkatan produksi migas di dalam negeri, konsumsi BBM di negeri terus naik. Dari catatan PT Pertamina, hingga akhir Mei lalu pemakaian BBM bersubsidi sudah melebihi target. Hal ini, jika dibiarkan, sampai akhir tahun konsumsi BBM akan melonjak dari 36,5 juta kiloliter menjadi lebih dari 40 juta kiloliter. Itu berarti kita harus mengimpor BBM lebih banyak dan menyedot triliunan rupiah anggaran lebih besar.
Dalam program pembatasan BBM ini pemerintah memang sudah membuat beberapa wacana pilihan. Misalnya, BBM bersubsidi hanya diprioritaskan untuk kendaraan angkutan umum. Pembatasan dikenakan terhadap kendaraan roda empat keluaran 2005 atau 2007 ke atas, semua jenis sedan, dan lain-lain.
Dari sisi infrastruktur, Pertamina menyiapkan pengurangan fasilitas dispenser yang menjual BBM bersubsidi seperti premium dan solar biasa. Sebaliknya, dispenser yang menjual BBM dengan oktan tinggi seperti Pertamax atau Pertamina Dex justru diperbanyak.
Apa pun pilihannya nanti, pemerintah harus jeli dalam menetapkan kebijakan pembatasan BBM ini. Jangan sampai akibatnya malah kontraproduktif. Yang jelas, tidak adil jika mobil-mobil pribadi -terutama milik orang-orang berkantung tebal- juga ikut menikmati BBM subsidi.
Salah satu yang masih kontroversial adalah rencana pemerintah mendorong kendaraan roda dua agar tidak lagi mengonsumi BBM bersubsidi. Di satu sisi, kebijakan ini memang terlihat tidak adil. Sebab, kendaraan roda dua umumnya menjadi andalan transportasi rakyat kecil. Selain itu, tingkat konsumsi BBM masih lebih kecil daripada kendaraan roda empat ke atas.
Namun, pada sisi lain, pertumbuhan kendaraan roda di Indonesia memang sangat luar biasa. Tak perlu jauh-jauh membuktikannya. Coba lihat betapa banyak sepeda motor memenuhi jalan raya pada jam-jam sibuk di pagi dan sore hari. Dalam dua bulan terakhir, tercatat hampir 1,3 juta unit sepeda motor baru berbagai merek yang turun ke jalan.
Menurut data Pertamina, dari total 45 juta kendaraan di Indonesia tahun ini, sekitar 36,6 juta di antaranya sepeda motor. Dengan pertumbuhan secepat itu, bisa dipahami jika konsumsi BBM yang disumbangkan oleh sepeda motor juga ikut melesat.
Namun, rakyat memang tak bisa disalahkan dengan pesatnya konsumsi BBM dari sepeda motor ini. Sepanjang negara tak bisa menciptakan angkutan masal yang nyaman dan terjangkau, sepeda motor tetap menjadi pilihan yang masuk akal.
Konsumsi BBM kendaraan hanyalah salah satu dari sekian banyak yang harus mendapat perhatian. Masih banyak bidang lain yang juga perlu mendapat perhatian serius. Misalnya, manajemen energi gas, panas bumi (geotermal), dan lain-lain yang selama ini belum optimal dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Akibatnya, puluhan triliun rupiah anggaran setiap tahun habis untuk mengimpor solar. Ke depan, jika penghematan BBM ini sukses, kita punya lebih banyak uang untuk membangun negeri.
Copyright © 2009 Jambi Ekspres. | All Rights Reserved
Powered by Joomla
GRAHA PENA Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08 Kenali Besar, Jambi
Telp/Fax : (0741) 668844/ (0741)667338
SALAH satu urusan penting yang harus diperbaiki di negeri ini adalah kebijakan energi. Sebab, persoalan energi menyangkut hajat hidup masyarakat. Bahkan, boleh dibilang baik tidaknya pengelolaan energi langsung terkait dengan maju tidaknya sebuah negara.
Dalam hal konsumsi bahan bakar minyak (BBM), misalnya, kami menyambut baik langkah pemerintah (melibatkan PT Pertamina) yang kini menyiapkan program untuk membatasi konsumsi BBM.
Publik harus sadar bahwa pembatasan BBM ini penting. Ini supaya masyarakat tidak memboroskan anggaran negara. Dengan demikian, subsidi tersebut bisa dialihkan untuk program-program yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, supaya kita bisa bekerja lebih keras untuk menemukan dan menggunakan energi yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Tak sebanding dengan peningkatan produksi migas di dalam negeri, konsumsi BBM di negeri terus naik. Dari catatan PT Pertamina, hingga akhir Mei lalu pemakaian BBM bersubsidi sudah melebihi target. Hal ini, jika dibiarkan, sampai akhir tahun konsumsi BBM akan melonjak dari 36,5 juta kiloliter menjadi lebih dari 40 juta kiloliter. Itu berarti kita harus mengimpor BBM lebih banyak dan menyedot triliunan rupiah anggaran lebih besar.
Dalam program pembatasan BBM ini pemerintah memang sudah membuat beberapa wacana pilihan. Misalnya, BBM bersubsidi hanya diprioritaskan untuk kendaraan angkutan umum. Pembatasan dikenakan terhadap kendaraan roda empat keluaran 2005 atau 2007 ke atas, semua jenis sedan, dan lain-lain.
Dari sisi infrastruktur, Pertamina menyiapkan pengurangan fasilitas dispenser yang menjual BBM bersubsidi seperti premium dan solar biasa. Sebaliknya, dispenser yang menjual BBM dengan oktan tinggi seperti Pertamax atau Pertamina Dex justru diperbanyak.
Apa pun pilihannya nanti, pemerintah harus jeli dalam menetapkan kebijakan pembatasan BBM ini. Jangan sampai akibatnya malah kontraproduktif. Yang jelas, tidak adil jika mobil-mobil pribadi -terutama milik orang-orang berkantung tebal- juga ikut menikmati BBM subsidi.
Salah satu yang masih kontroversial adalah rencana pemerintah mendorong kendaraan roda dua agar tidak lagi mengonsumi BBM bersubsidi. Di satu sisi, kebijakan ini memang terlihat tidak adil. Sebab, kendaraan roda dua umumnya menjadi andalan transportasi rakyat kecil. Selain itu, tingkat konsumsi BBM masih lebih kecil daripada kendaraan roda empat ke atas.
Namun, pada sisi lain, pertumbuhan kendaraan roda di Indonesia memang sangat luar biasa. Tak perlu jauh-jauh membuktikannya. Coba lihat betapa banyak sepeda motor memenuhi jalan raya pada jam-jam sibuk di pagi dan sore hari. Dalam dua bulan terakhir, tercatat hampir 1,3 juta unit sepeda motor baru berbagai merek yang turun ke jalan.
Menurut data Pertamina, dari total 45 juta kendaraan di Indonesia tahun ini, sekitar 36,6 juta di antaranya sepeda motor. Dengan pertumbuhan secepat itu, bisa dipahami jika konsumsi BBM yang disumbangkan oleh sepeda motor juga ikut melesat.
Namun, rakyat memang tak bisa disalahkan dengan pesatnya konsumsi BBM dari sepeda motor ini. Sepanjang negara tak bisa menciptakan angkutan masal yang nyaman dan terjangkau, sepeda motor tetap menjadi pilihan yang masuk akal.
Konsumsi BBM kendaraan hanyalah salah satu dari sekian banyak yang harus mendapat perhatian. Masih banyak bidang lain yang juga perlu mendapat perhatian serius. Misalnya, manajemen energi gas, panas bumi (geotermal), dan lain-lain yang selama ini belum optimal dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Akibatnya, puluhan triliun rupiah anggaran setiap tahun habis untuk mengimpor solar. Ke depan, jika penghematan BBM ini sukses, kita punya lebih banyak uang untuk membangun negeri.
Copyright © 2009 Jambi Ekspres. | All Rights Reserved
Powered by Joomla
GRAHA PENA Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08 Kenali Besar, Jambi
Telp/Fax : (0741) 668844/ (0741)667338
Langganan:
Komentar (Atom)