Kamis, 10 Juni 2010 10:38
SALAH satu urusan penting yang harus diperbaiki di negeri ini adalah kebijakan energi. Sebab, persoalan energi menyangkut hajat hidup masyarakat. Bahkan, boleh dibilang baik tidaknya pengelolaan energi langsung terkait dengan maju tidaknya sebuah negara.
Dalam hal konsumsi bahan bakar minyak (BBM), misalnya, kami menyambut baik langkah pemerintah (melibatkan PT Pertamina) yang kini menyiapkan program untuk membatasi konsumsi BBM.
Publik harus sadar bahwa pembatasan BBM ini penting. Ini supaya masyarakat tidak memboroskan anggaran negara. Dengan demikian, subsidi tersebut bisa dialihkan untuk program-program yang lebih bermanfaat bagi masyarakat. Selain itu, supaya kita bisa bekerja lebih keras untuk menemukan dan menggunakan energi yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Tak sebanding dengan peningkatan produksi migas di dalam negeri, konsumsi BBM di negeri terus naik. Dari catatan PT Pertamina, hingga akhir Mei lalu pemakaian BBM bersubsidi sudah melebihi target. Hal ini, jika dibiarkan, sampai akhir tahun konsumsi BBM akan melonjak dari 36,5 juta kiloliter menjadi lebih dari 40 juta kiloliter. Itu berarti kita harus mengimpor BBM lebih banyak dan menyedot triliunan rupiah anggaran lebih besar.
Dalam program pembatasan BBM ini pemerintah memang sudah membuat beberapa wacana pilihan. Misalnya, BBM bersubsidi hanya diprioritaskan untuk kendaraan angkutan umum. Pembatasan dikenakan terhadap kendaraan roda empat keluaran 2005 atau 2007 ke atas, semua jenis sedan, dan lain-lain.
Dari sisi infrastruktur, Pertamina menyiapkan pengurangan fasilitas dispenser yang menjual BBM bersubsidi seperti premium dan solar biasa. Sebaliknya, dispenser yang menjual BBM dengan oktan tinggi seperti Pertamax atau Pertamina Dex justru diperbanyak.
Apa pun pilihannya nanti, pemerintah harus jeli dalam menetapkan kebijakan pembatasan BBM ini. Jangan sampai akibatnya malah kontraproduktif. Yang jelas, tidak adil jika mobil-mobil pribadi -terutama milik orang-orang berkantung tebal- juga ikut menikmati BBM subsidi.
Salah satu yang masih kontroversial adalah rencana pemerintah mendorong kendaraan roda dua agar tidak lagi mengonsumi BBM bersubsidi. Di satu sisi, kebijakan ini memang terlihat tidak adil. Sebab, kendaraan roda dua umumnya menjadi andalan transportasi rakyat kecil. Selain itu, tingkat konsumsi BBM masih lebih kecil daripada kendaraan roda empat ke atas.
Namun, pada sisi lain, pertumbuhan kendaraan roda di Indonesia memang sangat luar biasa. Tak perlu jauh-jauh membuktikannya. Coba lihat betapa banyak sepeda motor memenuhi jalan raya pada jam-jam sibuk di pagi dan sore hari. Dalam dua bulan terakhir, tercatat hampir 1,3 juta unit sepeda motor baru berbagai merek yang turun ke jalan.
Menurut data Pertamina, dari total 45 juta kendaraan di Indonesia tahun ini, sekitar 36,6 juta di antaranya sepeda motor. Dengan pertumbuhan secepat itu, bisa dipahami jika konsumsi BBM yang disumbangkan oleh sepeda motor juga ikut melesat.
Namun, rakyat memang tak bisa disalahkan dengan pesatnya konsumsi BBM dari sepeda motor ini. Sepanjang negara tak bisa menciptakan angkutan masal yang nyaman dan terjangkau, sepeda motor tetap menjadi pilihan yang masuk akal.
Konsumsi BBM kendaraan hanyalah salah satu dari sekian banyak yang harus mendapat perhatian. Masih banyak bidang lain yang juga perlu mendapat perhatian serius. Misalnya, manajemen energi gas, panas bumi (geotermal), dan lain-lain yang selama ini belum optimal dimanfaatkan untuk pembangkit listrik. Akibatnya, puluhan triliun rupiah anggaran setiap tahun habis untuk mengimpor solar. Ke depan, jika penghematan BBM ini sukses, kita punya lebih banyak uang untuk membangun negeri.
Copyright © 2009 Jambi Ekspres. | All Rights Reserved
Powered by Joomla
GRAHA PENA Jambi Ekspres,
Jl. Kapt. Pattimura No. 35 KM. 08 Kenali Besar, Jambi
Telp/Fax : (0741) 668844/ (0741)667338
Tidak ada komentar:
Posting Komentar